Konsep Dasar PTK

BAGIAN II   MATERI PELATIHAN

A. Konsep Dasar Penelitian Tindakan Kelas

Mutu pendidikan di Indonesia sering dikeluhkan oleh banyak kalangan. Sebagai contoh adalah rendahnya kemampuan membaca murid-murid di Indonesia. Anda tahu bahwa jika dilihat dalam jajaran anak-­anak di dunia, kemampuan membaca anak Indonesia masih jauh berada di bawah. Untuk kawasan Asia pun kemampuan anak Indonesia itu masih rendah. Banyak upaya dilakukan untuk memperbaiki mutu yang rendah semacam itu.

Salah satu pendekatan pemecahan berbagai masalah dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan adalah pemanfaatan penelitian pendidikan. Namun, kita semua tahu bahwa dampak hasil penelitian pendidikan itu dalam bentuk peningkatan kualitas pembelajaran di kelas dirasakan masih sangat kurang. Penyebabnya adalah (1) penelitian pendidikan itu dilakukan oleh pakar atau peneliti dari luar, (2) penyebarluasan hasil penelitian ke kalangan praktisi pendidikan memakan waktu yang sangat panjang.

Peneliti dari luar yang bukan guru kelas, misalnya, dosen atau pakar pendidikan yang lain, kurang memahami benar masalah yang terjadi di dalam kelas. Permasalahan penelitian yang diangkat para peneliti itu kurang dihayati oleh  guru kelas dan  guru kelas dengan sendirinya tidak atau sukar sekali untuk dapat memanfaatkan hasil penelitian itu secara langsung. Di samping itu, penyebaran hasil penelitian pendidikan semacam itu lazimnya memakan waktu yang cukup lama. Tahukah Anda bahwa untuk mengkomunikasikan hasil penelitian semacam itu melalui jalur jurnal ilmiah, diperlukan waktu dua sampai tiga tahun. Apalagi, belum tentu guru sekolah itu tersentuh oleh jurnal ilmiah yang relatif menggunakan bahasa ilmiah yang tidak mudah untuk dipahami serta tidak terjangkau oleh guru dari segi harga langganannya.

Dengan semakin mantapnya psikologi kognitif yang mengedepankan asas konstruktivisme, para guru tidak lagi dianggap sekadar sebagai penerima pembaharuan yang diturunkan dari atas, tetapi guru bertanggung jawab dan berperan aktif untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya scndiri melalui penelitian tindakan dalam proses pembelajaran yang dikelolanya. Latar belakang itulah yang melahirkan konsep PTK. Menurut Anda, manfaat apakah yang dapat diperoleh oleh seorang guru yang melaksanakan PTK?

Dengan PTK, guru akan memperoleh manfaat praktis; ia dapat mengetahui secara jelas masalah-masalah yang ada di kelasnya dan bagaimana mengatasi masalah itu.

Dengan demikian, praksis pembelajaran di kelas diperbaiki oleh guru itu sendiri secara sadar dan terencana dengan baik. Dosen perguruan tinggi akan memperoleh manfaat dengan berkolaborasi dengan guru sekolah mengadakan PTK, yakni ia akan lebih akrab dengan lapangan, memperoleh masukan dalam pembinaan calon guru, dan kemitraan antara dosen dan guru akan menjadi lebih baik.

1. Pengertian Penelitian Tindakan Kelas

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) telah mulai berkembang sejak perang dunia kedua. Oleh sebab itu, sebenarnya ragam penelitian itu telah banyak membuahkan berbagai definisi. Berdasarkan uraian sebelumnya, bagaimanakah definisi  PTK menurut Anda? Bandingkanlah jawaban Anda dengan definisi berikut ini!

Suyanto (1997), misalnya, mendefinisikan PTK sebagai suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan atau meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas secara profesional. Definisi lain yang tidak jauh berbeda dikemukakan oleh Tim pelatih Proyek PGSM (1999) yang menyatakan

PTK sebagai suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan itu, serta memperbaiki kondisi di mana praktek pembelajaran tersebut dilakukan.

Stephen Kemmis (dalam Hopkins, 1992)  menyatakan PTK sebagai suatu bentuk penelahaan atau inkuiri melalui refleksi diri yang dilakukan oleh peserta kegiatan pendidikan tertentu dalam sitausi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran dari (a) praktik-praktik sosial atau kependidikan yang mereka lakukan sendiri, (b) pemahaman mereka terhadap praktik-praktik tersebut, dan (c) situasi di tempat praktik itu dilaksanakan.

Berdasarkan beberapa definisi PTK di atas, dapatkah kita menarik benang merah kesejajaran pengertian bahwa PTK merupakan (a) bentuk kajian yang sistematis reflektif, (b) dilakukan oleh pelaku tindakan (guru), dan (c) dilakukan untuk memperbaiki kondisi pembelajaran.

PTK bersifat reflektif. Artinya, dalam proses penelitian itu Anda sebagai guru sekaligus peneliti selalu memikirkan apa dan mengapa suatu dampak tindakan tetjadi di kelas. Dari pemikiran itu, Anda kemudian dapat mencari pemecahannya  melalui tindakan-tindakan pembelajaran tertentu (Suyanto, 1997). Jika Anda dengan bekal refleksi kemudian mengadakan penelitian, pada akhir tindakan itu pun Anda kembali mengadakan refleksi untuk memperbaiki tindakan dan melakukan rencana untuk perbaikan tahap berikutnya. Anda akan  terus-menerus mengadakan refleksi itu sampai praksis pembelajaran di kelas berhasil dengan baik. 0leh sebab itu, PTK dilaksanakan daalam wujud proses pengkajian berdaur yang terdiri atas empat tahap, yakni perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Kemmnis (1986) menggambarkan daur PTK itu sebagai berikut.

Siklus PTK yang bersifat spiral itu dengan jelas digambarkan oleh Hopkins (1985) sebagai berikut.

2. Karakteristik PTK

Dengan PTK,  Anda akan  berupaya untuk memperbaiki praksis pembelajaran agar menjadi lebih efektif. Pertanyaan selanjutnya adalah: Haruskah Anda mengorbankan proses pembelajaran karena melakukan PTK? PTK justru jangan sekali-kali menjadikan proses belajar mengajar terganggu. Anda tidak perlu mengubah jadwal rutin di kelas yang sudah direncanakan hanya untuk PTK. PTK haruslah sejalan dengan rencana rutin Anda sebagai guru. PTK juga diharapkan tidak lagi memberikan beban tambahan yang lebih berat bagi Anda. PTK justru harus dikerjakan terintegrasi dengan kegiatan sehari-hari di kelas (Suyanto, 1997).

Pada sisi lain, PTK dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik pendidikan. Hal itu dapat terjadi karena setelah Anda meneliti kegiatan-sendiri di kelas Anda–dengan melibatkan siswa–Anda akan memperoleh balikan yang bagus dan sistematis untuk perbaikan praksis pembelajaran. Dengan demikian, Anda dapat membuktikan apakah suatu teori belajar mengajar dapat diterapkan dengan baik atau tidak di kelas. Anda juga dapat mengadaptasi atau mengadopsi teori itu untuk diterapkannya di kelas agar pembelajarannya efektif dan efisien, optimal, dan fungsional.

Berdasarkan uraian di atas, dapatkah Anda merumuskan karakteristik PTK?

Marilah kita diskusikan jawaban Anda dan membandingkannya dengan pendapat  beberapa pakar  berikut ini!

Menurut Suyanto (1997), PTK mempunyai karakteristik sebagai berikut. Pertama, permasalahannya diangkat dari dalam kelas tempat guru mengajar yang benar-­benar dihayati oleh  guru sebagai masalah yang harus diatasi. Masalah tidak berasal dari luar atau disarankan oleh orang lain yang tidak tahu-menahu masalah yang terjadi di dalam kelas. Masalah juga bukan berasal dari hasil penelitian atau atau hasil kajian lain yang di luar penghayatan guru. Kedua, PTK adalah penelitian yang bersifat kolaboratif. Guru tidak harus sendirian berupaya memperbaiki praksis pembelajarannya. Ia dapat dibantu oleh pakar pendidikan, oleh dosen LPTK, atau oleh kepala sekolah, pengawas, atau bahkan oleh guru lain. Ketiga, PTK adalah jenis penelitian yang memunculkan adanya tindakan tertentu untuk memperbaiki proses belajar mengajar di kelas. Penelitian yang dilakukan di kelas tidaklah selalu menampakkan PTK. Penelitian di kelas yang tanpa memberikan tindakan apa-apa di kelas untuk perbaikan praksis pembelajaran bukanlah PTK. Itu hanya merupakan penelitian kelas. Misalnya, penelitian tentang kemampuan membaca siswa kelas dua sekolah dasar adalah penelitian kelas, bukan PTK. Penelitian semacam itu hanya mendeskripsikan kemampuan membaca siswa kelas dua tanpa ada tindakan perbaikan jika teryata kemampuan membaca siswa itu rendah. Sebaliknya, jika guru berupaya untuk memperbaiki kondisi kemampuan membaca yang rendah itu dengan tindakan tertentu, misalnya memilih bahan bacaan yang menarik yang bergambar, yang berisi ceritera-ceritera lucu, dan sebagainya, maka penelitian semacam itu adalah PTK.

Menurut Hopkins (1992), PTK mempunyai karakteristik sebagai berikut.

a.  Perbaikan praksis pembelajaran dari dalam (An inquiry on practice from within),

b. Usaha kolaboratif antara guru dan dosen (A collaborative effort between school teachers and teacher educators),

c.  Bersifat reflektif (A reflective practice made public).

Adakah kesamaan jawaban Anda dengan pendapat di atas?

Memang, PTK haruslah dilhami oleh permasalahan praktis yang dihayati oleh  guru sebagai pelaku pembelajaran di kelas. Guru merasakan ada masalah di kelasnya ketika dia mengajar. Guru berusaha untuk mengatasi masalah di kelas itu dengan sebuah penelitian yang disebut PTK. PTK bukanlah penelitian yang dilakukan oleh pihak luar yang tidak tahu tentang seluk-beluk yang terjadi dalam kelas. PTK bukan penelitian yang disarankan oleh pihak lain kepada guru, melainkan muncul dari dalam diri guru sendiri yang merasakan adanya masalah. PTK pada hakikatnya bertujuan untuk memperbaiki praksis pembelajaran di kelas secara langsung. Oleh sebab itu, penelitian ini sering juga disebut sebagai penelitian praktis karena memusatkan perhatiannya pada permasalahan yang spesifik kontekstual sehingga tidak terlalu hirau akan teknik sampling maupun syarat-syarat lain penelitian yang ketat. PTK lebih longgar karena analisis datanya  tidak harus menggunakan statistik yang rumit dan kaku. Metodologinya pun lebih longgar dalam arti tidak terlalu membakukan instrumentasi. Namun sebagai penelitian, ia tetap menekankan pada objektivitas. Jadi, upaya perbaikan praksis pembelajaran itu berasal dari dalam, yakni dari guru itu  sendiri.

Karakteristik PTK yang lain adalah sifatnya yang kolaboratif. Hal itu dapat Anda laksanakan dengan cara berkolaborasi dengan dosen LPTK maupun dengan teman sejawat.  Dengan cara itu, sebagai guru, Anda akan banyak menerima masukan tentang prosedur PTK yang benar. Dosen dapat bertindak sebagai mitra diskusi yang baik untuk  merumuskan masalah yang tepat, menentukan hipotesis tindakan yang baik, serta membantu  analisis data penelitian. Sebaliknya, dosen LPTK dapat memperoleh masukan yang berharga dari orang yang benar-benar berkecimpung di kancah yang tahu secara persis tentang permasalahan yang terjadi di kelasnya. Yang lebih penting lagi ialah terbentuknya hubungan kesejawatan yang harmonis antara guru dengan guru ataupun antara guru dengan dosen LPTK. Kehadiran dosen LPTK dalam kancah PTK  adalah sebagai mitra sejawat dan bukan sebagai sang mahatahu yang akan mendikte guru dalam penelitian.

3. Prinsip-prinsip Penelitian Tindakan Kelas

Berdasarkan uraian mengenai pengertian dan karakteristik PTK, tentunya Anda dapat mulai mengidentifikasi prinsip-prinsip PTK. Bagimana hasil identifikasi Anda?

Marilah kita bandingkan hasil identifikasi Anda dengan pendapat Hopkins (1992) yang menyatakan ada enam prinsip penting dalam PTK. Prinsip tersebut sebagai berikut.

a.   PTK tidak boleh mengganggu kegiatan guru mengajar di kelasnya.

b.   Metode pengumpulan data yang digunakan tidak menuntut waktu yang berlebihan sehingga mengganggu proses pembelajaran. Oleh sebab itu, sejauh mungkin harus digunakan prosedur pengumpulan data yang dapat ditangani sendiri oleh guru sementara ia tetap aktif berfungsi sebagai guru yang bertugas secara penuh.

c.   Metode yang digunakan harus cukup andal (reliable) sehingga memungkinkan  guru mengindentifikasikan serta merumuskan hipotesis secara meyakinkan, mengembangkan strategi yang dapat diterapkan pada situasi kelasnya, serta memperoleh data yang dapat digunakan untuk menjawab hipotesis yang dikemukakannya. Meskipun ada kelonggaran, penerapan asas-asas dasar telaah yang taat kaidah tetap harus dipertahankan.

d.   Masalah penelitian yang diangkat oleh guru seharusnya merupakan masalah yang memang benar-benar merisaukannya dan bertolak dari tanggung jawab profesionalnya.

e.   Dalam menyelenggarakan PTK  guru harus selalu bersikap konsisten menaruh kepedulian tinggi terhadap prosedur etika yang berkaitan dengan pekerjaannya. Prakarsa penelitian harus dikomunikasikan kepada pimpinan lembaga, disosialisasikan kepada teman sejawat, dilakukan sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah, dilaporkan hasilnya sesuai dengan tata krama penyusunan karya ilmiah, di samping tetap mengedepankan kemaslahatan subjek didik.

f.   Dalam pelaksanaan PTK  sejauh mungkin  guru harus menggunakan wawasan yang lebih luas daripada perspektif kelas. Artinya, permasalahan tidak dilihat terbatas dalam konteks kelas dan atau mata pelajaran tertentu, melainkan dalam perspektif misi dan visi sekolah secara keseluruhan.

Secara lebih ringkas, prinsip-prinsip PTK dapat  dituliskan sebagai berikut.

Prinsip-Prinsip PTK
1. Tidak mengganggu komitmen mengajar.
2. Tidak terlalu menyita waktu.
3. Metodologinya andal
a. Identifikasi dan rumusan hipotesis à meyakinkan
b. strategi à dapat diterapkan di kelas
4. Merupakan masalah guru
5. Konsisten terhadap prosedur etika
6. Permasalahan ada dalam perspektif misi sekolah.

4. Tujuan Penelitian Tindakan Kelas

Apabila kita mencermati pengertian PTK, akan sangat jelas bahwa tujuan PTK tidak lain adalah untuk memperbaiki praksis pembelajaran. Dengan PTK, diharapkan kualitas proses belajar mengajar menjadi lebih baik.  Sebagai guru, Anda dapat lebih meningkatkan kualitas pelayanan dalam mengajar dan pada gilirannya prestasi atau kinerja siswa akan meningkat. Secara lebih luas PTK juga merupakan sarana untuk dapat meningkatkan pelayanan sekolah secara keseluruhan terhadap anak didik dan masyarakat. PTK dapat meningkatkan kualitas program sekolah secara keseluruhan.

Dasar utama dilaksanakannya PTK adalah untuk perbaikan praksis pembelajaran khususnya dan perbaikan program sekolah pada umunmya. PTK pada dasarnya juga merupakan sebuah upaya untuk meningkatkan keterampilan Anda  untuk menanggulangi berbagai masalah yang muncul di kelas atau di sekolah dengan atau tanpa masukan khusus berupa berbagai program pelatihan yang eksplisit. Dengan kata lain, PTK  mewujudkan proses latihan dalam jabatan yang unik. Mengapa demikian? Pertama, kebutuhan pelaksanaannya tumbuh dari guru itu sendiri. Kedua, proses pelatihan terjadi secara hands-on, tidak dalam situasi artifisial. Ketiga, apabila dilakukan secara benar PTK didukung oleh lingkungan (PTK  berbeda dengan program pelatihan atau program pengembangan staf). Raka Joni (1998) dengan sangat jelas membedakan kedua bentuk kegiatan tersebut. Menurutnya, ada tujuan penyerta yang muncul dalam PTK, yakni tumbuhnya budaya meneliti di kalangan para guru.

5. Manfaat Penelitian Tindakan Kelas

Menurut Anda, apa sajakah manfaat PTK?

Pada bagian awal telah disebutkan bahwa PTK pada hakikatnya bertujuan untuk meningkatkan praksis pembelajaran. Dari tujuan itu jelaslah bahwa PTK  akan sangat bermanfaat bagi Anda untuk mengembangkan proses belajar mengajar di kelas. Berdasarkan pengetahuan tentang teori belajar dan mengajar yang sesuai dengan bidang studi, Anda dapat mengembangkan teknik, metode, atau pendekatan yang akan terus Anda kaji untuk  melihat efektivitasnya di kelas, di tempat  Anda mengajar. Hal itu dapat terus Anda lakukan karena setiap tahun Anda akan berhadapan dengan anak-anak yang berbeda-beda, baik tingkat kelas, tingkat umurnya, latar sosial budayanya, maupun Iatar kecerdasannya. Dengan demikian, Anda akan dapat mengembangkan proses belajar mengajar yang optimal bagi anak didik yang Anda asuh  di kelas.. Proses belajar mengajar dapat dikembangkan terus-menerus sehingga terjadilah inovasi dalam proses belajar mengajar.

Di samping itu, PTK merupakan bahan refleksi bagi  Anda untuk terus mengembangkan kurikulum di tingkat sekolah atau kelas. Pemilihan tujuan yang tepat, materi yang sesuai, serta metode ataupun teknik serta media dan evaluasi yang tepat adalah sasaran yang dapat dicapai. Itu berarti bahwa  Anda akan terus memperbaiki kurikulum di tingkat sekolah ataupun kelasnya. Anda tahu bahwa guru yang profesionai adalah  guru yang terus rnenerus mau belajar untuk menjadi guru yang baik. Untuk itu, perubahan yang terus-menerus dikembangkannya. Dengan PTK, guru, pada hakikatnya akan semakin pofesional sebab ia akan terus merefleksi proses belajar mengajarnya. Ia akan terus melakukan tindakan-tindakan yang tepat untuk perbaikan, dan mengadakan evaluasi atas kinerjanya sendiri.

Dalam hal manfaat PTK ini, secara ringkas, Suyanto (1997) menyatakan bahwa manfaat PTK adalah (1) inovasi pembelajaran, (2) pengembangan kurikulum di tingkat sekolah dan kelas, (3) peningkatan profesionalitas guru. (Setujukah  Anda?)

6. Perbandingan PTK dengan Penelitian Formal

Jika Anda pernah berkolaborasi dengan dosen LPTK dalam PTK, Anda tentu dapat mengungkapkan suka duka Anda dalam pelaksanaan PTK. Kemukakanlah hal itu kepada teman-teman Anda!

Berdasarkan pengamatan, pelaksanaan PTK yang berkolaborasi antara guru dengan dosen LPTK masih menampakkan kekurangtepatan persepsi. Yang pertama adalah persepsi yang menampilkan pendekatan misionaris; dosen LPTK menempatkan dirinya sebagai pembina guru, baik dalam konteks sekolah dasar maupun dalam konteks sekolah menengah. Dosen masih merasakan bahwa dirinya adalah pakar yang harus mengarahkan kalau perlu mendiktekan idenya kepada para guru. Permasalahan PTK  lalu tidak berakar di kelas, tetapi berakar pada gagasan dosen LPTK.  Guru tidak atau kurang menghayati permasalahan yang dilontarkan oleh dosen dengan cara seperti itu. Kedua, kekurangtepatan persepsi itu berkaitan dengan pendekatan penelitian yang diterapkannya, yakni penelitian formal. Dalam hal semacam itu dosen LPTK cenderung memberikan pelatihan pada para  guru dan yang terjadi bukanlah PTK melainkan pengembangan staf atau program pelatihan bagi guru.

Oleh sebab itu, haruslah dibedakan antara penelitian formal dengan PTK , terutama jika dilihat pada pemetik keuntungan langsungnya (direct beneficiary). Dalam program pelatihan pemetik keuntungan langsung adalah  guru yang dilatih, sedangkan untuk PTK  pemetik keuntungan langsung adalah murid. Perbedaan antara PTK dengan penelitian formal dapat digambarkan sebagai berikut.

Perbandingan Karakteristik PTK dengan Penelitian Formal

Dimensi PTK Penelitian Formal
Motivasi tindakan kebenaran
Sumber Masalah diagnosis status induksi-deduksi
Tujuan mengembangkan praksis pembelajaran verifikasi dan   menemukan pengetahuan yang dapat digeneralisasikan
Keterlibatan Peneliti oleh pelaku dari dalam oleh orang luar
Sampel kasus khusus representatif
Metodologi longgar, tetapi berusaha objektif baku objektif yang melekat
Tafsiran Temuan memahami praksis melalui refleksi dan penteorian oleh praktisi memerikan, mengabstrasikan, membangun teori oleh ilmuwan
Hasil Akhir pembelajaran yang lebih baik bagi siswa (proses dan produk) menguji pengetahuan, prosedur, dan material

B. Prosedur Pelaksanaan Peneilitian Tindakan Kclas

1. Pengantar

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan secara kolaboratif antara guru maupun dengan kepala sekolah bertujuan untuk meningkatkan kinerja  guru serta hasil belajar siswa. Dengan kata lain, PTK bertujuan bukan hanya berusaha mengungkapkan penyebab dari berhagai permasalahan pembelajaran yang dihadapi,  misalnya kesulitan siswa dalam memahami pokok-pokok bahasan tertentu, tetapi yang lebih penting lagi adalah memberikan solusi berupa tindakan untuk mengatasi permasalahan pembelajaran tersebut.

Pada bagian terdahulu telah dipaparkan dengan jelas tentang hakikat dan karakteristik PTK dan pada bagian ini akan dilanjutkan dengan mengemukakan uraian tentang prosedur PTK yang mencakup penetapan fokus permasalahan, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan yang disertai observasi dan interpretasi, analisis dan refleksi, serta-­apabila perlu–perencanaan tindak lanjut. Dengan demikian, Anda dapat memahami hakikat dan prosedur pelaksanaan PTK dan tidak mudah terjebak masuk kembali ke dalam wilayah penelitian formal.

PTK merupakan proses pengkajian melalui sistem berdaur dan berbagai kegiatan pembelajaran. Dengan menggunakan kerangka pikir yang dikemukakan oleh Raka Joni dkk. (1998), dapat dikenali adanya 5 (lima) tahap pelaksanaan PTK, termasuk tahap awal berupa proses penghayatan mengenai adanya permasalahan yang perlu mendapat penanganan (pengembangan fokus masalah penelitian). Namun, dalam kenyataannya tahap-tahap tersebut merupakan titik-titik dalam semacam estafet yang terdapat dalam suatu siklus. Adapun tahap-tahap tersebut adalah (1) pengembangan fokus masalah penelitian, (2) perencanaan tindakan perbaikan, (3) pelaksanaan tindakan perbaikan, observasi, dan interpretasi, (4) analisis dan refleksi, (5) perencanaan tindak lanjut.

Secara lebih rinci, prosedur berdaur pelaksanaan PTK itu dapat digambarkan sebagai berikut.

Gambar  Alur Penelitian Tindakan Kelas

Dalam pelaksanaannya, PTK diawali dengan diagnosis masalah, kesadaran akan permasalahan yang Anda rasakan mengganggu dan menghalangi pencapaian tujuan pendidikan sehingga ditengarai telah berdampak kurang baik terhadap proses dan/atau hasil belajar siswa, dan/atau implementasi  program sekolah.

Cobalah Anda identifikasi masalah-masalah yang Anda anggap mengganggu itu dan menuliskannya dalam format di bawah ini.

Masalah yang mengganggu dan menghalangi Anda dalam pencapaian tujuan pendidikan.

Bertolak dari kesadaran mengenai adanya permasalahan tersebut—yang mungkin masih tergambarkan secara kabur, baik oleh Anda sendiri sebagai guru maupun dalam kolaborasi dengan  guru lain yang menjadi mitra—Anda kemudian menetapkan fokus permasalahan secara lebih tajam, kalau perlu dengan mengumpulkan tambahan data lapangan secara lebih sistematis dan/atau melakukan kajian pustaka yang relevan. Anda dapat menuliskan fokus permasalahan  ke dalam format berikut.

Fokus permasalahan PTK 1.… 2… 3 …

Selanjutnya, dengan perumusan permasalahan yang lebih tajam itu dapat dilakukan diagnosis kemungkinan-kemungkinan penyebab permasalahan secara lebih cermat, sehingga terbuka peluang untuk menjajaki alternatif-alternatif tindakan perbaikan yang diperlukan sebagai upaya mengatasi/memecahkan masalah yang perlu ditunjang dengan data lapangan yang sistematis dan kajian pustaka yang relevan. Hal itu dapat Anda torehkan dalam format berikut.

Diagnosis penyebab permasalahan: … Alternatif tindakan perbaikan: …

Selanjutnya, alternatif pengatasan permasalahan yang dinilai terbaik, kemudian diterjemahkan menjadi program tindakan perbaikan yang akan dicobakan. Hasil percobaan tindakan perbaikan itu dinilai dan direfleksikan dengan mengacu kepada kriteria-kriteria perbaikan yang dikehendaki, yang telah ditetapkan sebelumnya.

2.   Penetapan Fokus Masalah Penelitian

a.    Merasakan Adanya Masalah

Jika Anda tergolong pemula dalam PTK, pertanyaan yang mungkin timbul   adalah bagaimana memulai PTK? Untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut, yang harus Anda miliki adalah perasaan tidak puas terhadap praktik pembelajaran yang selama ini Anda lakukan. Meskipun sebenarnya terdapat banyak hambatan yang Anda alami dalam pengelolaan proses pembelajaran, mungkin agaak sulit  bagi Anda untuk memunculkan pertanyaan seperti di atas, yang

0leh sebab itu, agar Anda dapat menerapkan PTK sebagai  upaya untuk memperbaiki dan/atau meningkatkan layanan pembelajaran secara lebih profesional, Anda dituntut untuk berani mengatakan secara jujur khususnya kepada diri sendiri mengenai sisi­-sisi lemah yang masih terdapat dalam implementasi program pembelajaran yang Anda kelola. Dengan kata lain, Anda harus mampu merefleksi, merenung. serta berpikir balik, mengenai apa saja yang telah dilakukan dalam proses pembelajaran dalam rangka mengidentifikasikan sisi-sisi lemah yang mungkin ada. Dalam proses perenungan itu, terbuka peluang bagi Anda untuk menemukan kelemahan-kelemahan praktik pembelajaran yang selama ini mungkin Anda lakukan secara tanpa Anda sadari. Oleh karena itu, untuk memanfaatkan secara maksimal potensi PTK bagi perbaikan proses pembelajaran, Anda perlu memulainya sedini mungkin begitu  merasakan adanya persoalan-persoalan dalam proses pembelajaran.

Merasakan adanya masalah: Tidak puas terhadap pembelajaran yang dilakukan Berpikir balik untuk melihat sisi lemah pembelajaran Ada usaha/kemauan untuk mengatasi/memecahkan masalah

Jadi, permasalahan yang diangkat dalam PTK harus benar-benar merupakan masalah-masalah yang Anda hayati sebagai   guru dalam praktik pembelajaran, bukan permasalahan yang disarankan, apalagi ditentukan oleh pihak luar termasuk oleh Kepala Sekolah yang menjadi mitra. Permasalahan tersebut dapat berangkat (bersumber) dari siswa, guru, bahan ajar, kurikulum, interaksi pembelajaran, dan hasil belajar siswa.

b.    ldentifikasi Masalah PTK

Sebagaimana telah dikemukakan, penetapan arah PTK  berangkat dari diagnosis terhadap keadaan yang bersifat umum. Anda juga bisa memicu proses penemuan permasalahan tersebut dengan bertolak dari gagasan-gagasan yang masih bersifat umum mengenai keadaan yang perlu diperbaiki.

Menurut Hopkins (1992), untuk mendorong pikiran-pikiran dalam mengembangkan fokus PTK, kita bisa bertanya kepada diri sendiri, misalnya:

(1)            Apa yang sedang terjadi sekarang?

(2)            Apakah yang terjadi itu mengandung permasalahan?

(3)            Apa yang hisa saya lakukan untuk mengatasinya?

Bila pertanyaan tersebut ada dalam pikiran guru sebagai aktor PTK, langkah tersebut dapat dilanjutkan dengan mengembangkan beberapa pertanyaan scperti di bawah ini.

Pada tahap ini yang paling penting adalah menghasilkan gagasan-gagasan awal mengenai permasalahan aktual yang Anda alami sebagai guru di kelas. Dengan berangkat dan gagasan-­gagasan awal tersebut, Anda dapat berbuat sesuatu untuk memperbaiki keadaan dengan menggunakan PTK. Masalah yang  Anda rasakan atau pernah Anda alami dapat Anda catat/ daftar (masalah dapat berasal dari guru, siswa, bahan ajar, kurikulum, interaksi pembelajaran, hasil belajar, media).

Jika mengalami kesulitan dalam mengidentifikasikan permasalahan, Anda dapat meminta bantuan pada sesama guru, berdiskusi dengan dosen mitra dan/atau melacak sumber-sumber kepustakaan yang relevan. Namun, para kolega itu perlu memaklumi bahwa ada kemungkinan Anda akan lebih terfokus pada kesulitannya daripada kepada tujuan dan perubahan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut.

Bila menghadapi hal seperti ini, Anda perlu mendalami lebih jauh permasalahan yang dihadapi. Mitra dan kepala sekolah harus siap menjadi pendengar yang baik dan terbuka agar semua permasalahan yang  Anda hadapi  di dalam tugas dapat diidentifikasi. Sebaliknya, mitra dan kepala sekolah harus berupaya keras, agar mereka tidak terperosok dan menempatkan diri sebagai pembina atau pengarah, sebab mereka juga ada pada posisi membutuhkan kesempatan belajar, baik dalam memahirkan diri dalam PTK maupun dalam mengakrabi lapangan.

c.    Analisis Masalah

Setelah memperoleh sederet permasalahan melalui proses identifikasi ini, Anda sebagai peneliti —secara individu atau bermitra dengan  guru lain—melakukan analisis terhadap masalah-­masalah tersebut untuk menentukan urgensi pengatasan. Dalam hubungan ini, akan tertemukan permasalahan yang sangat mendesak untuk diatasi seperti  penguasaan operasi matematika, atau yang dapat ditunda pengatasannya tanpa kerugian yang besar, seperti kemampuan membaca peta buta. Bahkan, memang ada permasalahan yang tidak dapat diatasi dengan PTK, seperti kesalahan-kesalahan faktual dan/atau konseptual yang terdapat dalam buku paket. Menurut Abimanyu (1995), arahan yang perlu diperhatikan dalam pemilihan permasalahan untuk PTK adalah sebagai berikut.

1)  Pilih permasalahan yang dirasa penting oleh guru sendiri dan muridnya, atau topik yang melibatkan  guru dalam serangkaian aktivitas yang memang diprogramkan oleh sekolah.

2)  Jangan memilih masalah yang berada di luar kemampuan dan/atau kekuasaan guru untuk mengatasinya.

3)  Pilih dan tetapkan permasalahan yang skalanya cukup kecil dan terbatas (managable).

4)  Usahakanlah untuk bekerja secara kolaboratif dalam pengembangan fokus penelitian.

5)  Kaitkan PTK yang akan dilakukan dengan prioritas-prioritas yang ditetapkan dalam rencana pengembangan sekolah.

Tidak perlu ditekankan lebih kuat lagi bahwa analisis masalah perlu dilakukan secara cermat sebab keberhasilan pada tahap analisis masalah akan menentukan keberhasilan keseluruhan proses pelaksanaan PTK. Jika PTK  berhasil dilaksanakan dengan membawa kemanfaatan yang dapat Anda rasakan dan dapat dirasakan pula oleh sekolah (intrinsically rewarding), keberhasilan ini akan menjadi motivasi bagi  Anda untuk meneruskan usaha di masa-masa yang akan datang. Di samping itu, temuan-temuan yang dihasilkan melalui PTK itu akan menarik bagi  guru lain yang belum mengikuti program PTK  untuk juga mencoba melaksanakannya.

d.    Perumusan Masalah

Setelah menetapkan fokus permasalahan serta menganalisisnya menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, selanjutnya Anda perlu merumuskan permasalahan secara lebih jelas, spesifik, dan operasional. Perumusan masalah yang jelas akan membuka peluang bagi  Anda untuk menetapkan tindakan perbaikan (alternatif solusi) yang perlu dilakukannya, jenis data yang perlu dikumpulkan termasuk prosedur perekamannya serta cara mengintenpretasikanñya, khususnya yang perlu dilakukan sementara tindakan perbaikan dilaksanakan dan data mengenai proses dan/atau hasilnya itu direkam. Di samping itu, penetapan tindakan perbaikan yang akan diujicobakan itu juga memberikan arahan kepada Anda untuk melakukan berbagai persiapan termasuk yang berbentuk latihan guna meningkatkan keterampilan untuk melakukan tindakan perbaikan yang dimaksud. Sebagaimana yang telah dikemukakan dalam bagian I, dalam PTK, Anda merupakan aktor pelaksana tindakan perbaikan di samping sebagai peneliti.

Contoh rumusan masalah (dapat dirumuskan dalam kalimat berita atau kalimat tanya): 1) Kemampuan stswa kelas II-1 SMP Negeri I Darussalam dalam mengubah kalimat aktif ke kalimat pasif atau sebaliknya masih rendah. 2) Kecepatan membaca siswa kelas 6 Sekolah Dasar Negeri Ketintang masih sangat rendah. 3)  Bagaimanakah peningkatan kualitas pembelajaran siswa kelas I SMPN 12 Surabaya melalui  strategi pembelajaran kooperatif?

3. Perencanaan Tindakan

a.   Formulasi Solusi dalam Bentuk Hipotesis Tindakan

Dilihat dari sudut lain, alternatif tindakan perbaikan juga dapat dilihat sebagai hipotesis dalam arti mengindikasikan dugaan mengenai perubahan dalam arti perbaikan yang bakal terjadi jika suatu tindakan dilakukan. Misalnya, jika kebiasaan membaca ditingkatkan melalui penugasan mencari kata atau istilah serapan, perbendaharaan kata akan meningkat rata-rata 10% setiap bulannya. Dari contoh ini hipotesis tindakan merupakan tindakan yang diduga akan dapat memecahkan masalah yang ingin diatasi dengan penyelenggaraan PTK .

Bentuk umum rumusan hipotesis tindakan berbeda dengan hipotesis penelitian formal.

Jika hipotesis penelitian formal menyatakan adanya hubungan antara dua variabel atau lebih atau menyatakan adanya perbedaan antara dua kelompok atau lebih, maka hipotesis tindakan tidak menyatakan demikian, tetapi menyatakan “kita percaya tindakan kita akan merupakan suatu solusi yang dapat memecahkan permasalahan yang diteliti”. Sebagai contoh lain, “pelibatan orang tua dalam perencanaan kegiatan akademik sekolah, akan berdampak meningkatkan perhatian mereka terhadap penyelesaian tugas siswa di rumah”.

Agar dapat menyusun hipotesis tindakan dengan tepat, sebagai peneliti, Anda dapat melakukan kegiatan berikut ini. 1) Pengkajian teoretik di bidang pembelajaran/pendidikan. 2) Pengkajian hasil-hasil penelitian yang relevan dengan permasalahan. 3) Diskusi dengan rekan sejawat, pakar pendidikan, peneliti lain dan sebagainya. 4) Pengkajian pendapat dan saran pakar pendidikan khususnya yang dituangkan dalam bentuk program, dan 5) Perefleksian pengalaman Anda  sebagai guru.

Dari hasil pengkajian/diskusi tersebut, dapat diperoleh landasan untuk membangun hipotesis tindakan. Menurut Soedarsono (1997) beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut.

1)  Rumuskan alternatif tindakan perbaikan berdasarkan hasil kajian. Dengan kata lain, alternatif tindakan perbaikan hendaknya mempunyai landasan yang mantap secara konseptual.

2) Kaji ulang setiap alternatif tindakan perbaikan yang dipertimbangkan dan evaluasi dan segi relevansinya dengan tujuan, kelaikan teknis, serta keterlaksanaannya. Di samping itu, tetapkan juga cara penilaiannya sehingga dapat memfasilitasi pengumpulan serta analisis data secara cepat namun tepat selama program tindakan perbaikan itu diimplementasikan.

3)  Pilih alternatif tindakan serta prosedur implementasi yang dinilai paling menjanjikan hasil yang optimal namun masih tetap ada dalam jangkauan kemampuan guru untuk melakukannya dalam kondisi dan situsasi sekolah yang aktual.

4)  Pikirkan dengan saksama perubahan-perubahan atau perbaikan-perbaikan yang secara implisit dijanjikan melalui hipotesis tindakan itu, baik yang berupa proses dan hasil belajar siswa maupun teknik mengajar guru.

b. Analisis Kelaikan Hipotesis Tindakan

Setelah diperoleh gambaran awal mengenai sejumlah hipotesis tindakan, selanjutnya Anda perlu melakukan pengkajian terhadap kelaikan dan masing-masing hipotesis tindakan itu dari segi “jarak” yang terdapat antara situasi nyata dengan situasi ideal yang dijadikan rujukan. Jika terdapat jarak yang terlalu jauh di antara keduanya sehingga dalam praktik akan terlalu sulit untuk mengupayakan perwujudannya, tindakan yang dilakukan tidak akan membuahkan hasil yang optimal

OIeh karena itu, kondisi dan situasi yang dipersyaratkan untuk penyelenggaraan sesuatu tindakan perbaikan dalam rangka PTK harus ditetapkan sedemikian sehingga masih ada dalam batas-batas  kemampuan guru serta dukungan fasilitas yang tersedia di sekolah maupun  kemampuan rata-rata siswa untuk “mencernakannya”. Dengan kata lain, sebagai aktor PTK, guru hendaknya cukup realistis dalam menghadapi kenyataan keseharian dunia sekolah di mana ía berada dan melaksanakan tugasnya.

Hipotesis tindakan harus dapat diuji secara empirik. Itu berarti bahwa baik proses ‘implementasi tindakan yang dilakukan maupun dampak yang diakibatkannya dapat diamati oleh  guru yang merupakan aktor PTK maupun mitra kerjanya. Sebagian dan gejala-gejala yang dapat diamati itu dapat dinyatakan dalam angka-angka, namun sebagian lagi hanya dapat diberikan secara kualitatif  Namun, yang paling penting, gejala-gejala tersebut harus dapat diverifikasi oleh pengamat lain, apabila diperlukan.

Pada gilirannya, untuk melakukan tindakan agar mengahasilkan dampak/hasil sebagaimana diharapkan, diperlukan kajian mengenai kelaikan hipotesis tindakan terlebih dahulu. Menurut Soedarsono (1997), beberapa ha] yang perlu diperhatikan dalam mengkaji kelaikan hipotesis tindakan sebagai berikut.

1)  Implementasi PTK akan berhasil, hanya apabila didukung oleh kemampuan dan komitmen guru yang merupakan aktornya. Di pihak lain, sebagaimana telah dikemukakan dalam bagian terdahulu, untuk pelaksanaan PTK kadang-kadang memang masih diperlukan peningkatan kemampuan guru melalui berbagai bentuk pelatihan sebagai komponen penunjang. Selanjutnya, selain persyaratan kemampuan, keberhasilan pelaksanaan PTK juga ditentukan oleh adanya komitmen guru yang merasa tergugah untuk melakukan tindakan perbaikan. Dengan kata lain, PTK dilakukan bukan karena ditugaskan oleh atasan atau didorong oleh keinginan untuk memperoleh imbalan finansial.

2)  Kemampuan siswa juga perlu diperhitungkan baik dan segi fisik, psikologis dan sosial budaya maupun etik. Dengan kata lain, PTK seyogyanya tidak dilaksanakan apabila diduga akan berdampak merugikan siswa.

3)  Fasilitas dan sanana pendukung yang tersedia di kelas atau disekolah juga perlu diperhitungkan, sehab pelaksanaan PTK dengan mudah dapat tersabotase olch kekurangan dukungan fasilitas penyelenggaraan. Oleh karena itu, demi keherhasilan PTK maka  guru dan mitranya dituntut untuk dapat mengusahakan fasilitas dan sarana yang diperlukan.

4)  Selain kemampuan siswa sebagai perorangan, keberhasilan PTK juga sangat tergantung pada iklim belajar di kelas atau sekolah. Namun pertimbangan ini tentu tidak dapat diartikan sebagai kecenderungan untuk rrempertahankan statuskuo. Dengan kata lain, perbaikan iklim belajar di kelas dan di sekolah memang justru dapat dijadikan sebagai salah satu sasaran PTK.

5)  Karena sekolah juga merupakan sebuah organisasi, maka selain iklim belajar sebagaimana dikemukakan pada butir 4), iklim kerja sekolah juga menentukan keberhasilan penyelenggaraan PTK. Dengan kata lain, dukungan dan kepala sekolah serta rekan sejawat guru dapat memperbesar peluang keberhasilan PTK.

Selain itu semua, tim PTK juga perlu membahas secara mendalam tentang kemungkinan konsekuensi atas dilakukannya tindakan yang harus diantisipasi. Demikian pula kemungkinan timbulnya masalah baru dengan adanya tindakan di kelas. Atas dasar babagai pertimbangan di atas maka peneliti dapat secara lebih cermat menyusun rencana yang akan dilakukan.

c.   Persiapan Tindakan

Sebelum PTK dilaksanakan, apa saja yang perlu Anda persiapkan?  Tim PTK perlu melakukan berbagai persiapan sehingga semua komponen yang direncanakan dapat dikelola dengan baik. Langkah-langkah persiapan yang perlu ditempuh itu sebagai berikut.

1)  Membuat skenario pernbelajaran yang berisikan langkah-langkah yang dilakukan guru di samping bentuk—bentuk kegiatan yang dilakukan siswa dalam rangka implementasi tindakan perbaikan yang telah direncanakan.

2)  Mempersiapkan fasilitas dan sarana pendukung yang diperlukan di kelas, seperti gambar-gambar dan alat-alat peraga.

3)  Mempersiapkan cara merekam dan menganalisis data mengenai proses dan hasil tindakan perbaikan, kalau perlu juga dalam bentuk pelatihan-pelatihan.

4)  Melakukan simulasi pelaksanaan tindakan perbaikan untuk menguji keterlakasanaan rancangan, sehingga dapat menumbuhkan serta mempertebal kepercayaan diri dalam pelaksanaannya yang sebenamya. Sebagai aktor PTK, guru harus terbebas dari rasa takut gagal dan takut berbuat kesalahan.

4. Pelaksanaan Tindakan dan Observasi-Interprestasi

Sebagaimana  telah dikemukakan dalam bagian terdahulu, sangatlah beralasan untuk beranggapan bahwa PTK  dilakukan oleh seorang  guru atas prakarsanya sendiri, meskipun memang terbuka peluang bagi pelaksana PTK secara kolaboratif itu berarti bahwa observasi yang dilakukan oleh guru sebagai aktoR PTK tidak dapat digantikan oleh pengamat luar atau oleh sarana perekam, betapapun canggihnya.

Dengan kata lain, penyaturagaan implementasi tindakan dan observasi-interprestasi proses dan hasil implementasi tindakan tersebut terjadi, tidak lebih dan tidak kurang karera keduanya merupakan bahagian tidak terpisahkan dalam tindakan alamiah pembelajaran.

Kekhasannya adalah bahwa dalam konteks PTK, kedua kegiatan dilakukan dengan tingkatan kesadaran serta eksplisitasi yang lebih tinggi, seringkali bahkan dengan melibatkan sejawat dan mitra di samping berbagai peralatan pembantu rekam yang lazimnya tidak digunakan dalam konteks pembelajaRan sehari-hari.

Akhimya. agar tidak menmibulkan kerancuan yang tidak perlu, perlu dicatat bahwa Hopkins (1992) secera eksplisit menandaskan bahwa paparan mengenai observasi kelas itu ditampilkannya bukan semata-mata dalam konteks PTK, melainkan dalam konteks pengembangan  guru dan sekolah yang lebih luas sehingga juga melibatkan supervisor  (dalam hal ini kepala sekolah dan/atau pengawas sebagai pelaksana fungsional).

Sebaliknya, penyelengganaan PTK yang diprogramkan baik melalui PPGSD maupun PPGSM, fokusnya ditempatkan pada pemanfaatan peluang bagi para dosen LPTK dan guru SD/SM sebagai mitranya terutama untuk mengakrabi PTK sebagai mekanisme perbaikan yang efektif. Oleh karena itu, dampak perbaikan yang diperoleh, apabila memang kebetulan telah terwujud, harus dilihat sebagai semacam keuntungan tambahan, bukan sebagai misi yang harus ditambahkan pada tahap pelatihan dan pengakraban ini.

Hal itu juga berarti, para dosen LPTK yang berperan sebagai mitra dalam PTK  perlu diingatkan agar tidak serta-merta menempatkan diri sebagai supervisor  dalam arti yang telah mapan itu, gara-gara kurang cermat memahami pesan yang dikemukakan oleh Hopkins tersebut di atas.

Meskipun kerangka observasi yang dirujuk pada awalnya memang dirancang untuk supervisi kilnis yang sangat produktif digunakan dalam menata hubungan antara guru pamong/dosen pembimbing dengan praktikan dalam proses pembimbingan PPL, dalam konteks PTK para dosen LPTK yang menjadi mitra PTK itu harus selalu waspada menempatkan diri sebagai sejawat yang setara. Artinya, pendekatan kolaboratif harus ditetapkan dalam (i) menyiapkan kerangka pikir observasi-interprestasi, (ii) menyajikan data hasil observasi baik yang direkam oleh mitra pengamat maupun oleh guru sebagai aktor tindakan perbaikan, (iii) membahas bersama interpretasi dan data tersebut dalam kerangka PTK tindakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya, serta (iv) menyepakati berbagai tindak lanjut yang diperlukan, apabila memang masih ada.

a. Pelaksanaan Tindakan

Jika semua tindakan persiapan telah selesai, skenario tindakan perbaikan yang telah direncanakan itu dapat Anda laksanakan dalam situasi yang aktual. Kegiatan pelaksanaan tindakan perbaikan ini merupakan tindakan pokok dalam siklus PTK, dan sebagaimana telah diisyaratkan di atas, pada saat yang bersamaan kegiatan pelaksanaan ini juga disertai dengan kegiatan observasi dan interpretasi serta diikuti dengan kegiatan refleksi.

Penggabungan pelaksanaan tindakan dengan kegiatan observasi-interpretasi perlu dicermati benar sebab merupakan ciri khas PTK.

Observasi dan interpretasi memang lazim dalam konteks supervisi pengajaran, akan tetapi sebagaimana diisyaratkan dalam bagian terdahulu dan kembali ditekankan di atas, PTK  bukan supervisi pengajaran, meskipun memang mungkin saja dalam PTK  juga tergelar dimensi supervisi pengajaran. Sebagaimana telah diisyaratkan, yang penting dicatat adalah bahwa dalam konteks PTK, supervisi pengajaran yang berpeluang terjadi adalah supervisi kesejawatan (peer supervision). Dengan kata lain, berbeda dan konteks supervisi pada umumnya di mana terdapat peranan supervisor-supervisee dalam tata hubungan yang bersifat subordinatif, sebaliknya dalam konterks PTK  terdapat keterlibatan dua pihak yang setara sehingga mekanisme yang tergelar lebih menyerupai interaksi kesejawatan (peer to peer).

Observasi dan interpretasi juga memang lazim dalam konteks penelitian formal, namun sebagaimana ditekankan dalam bagian terdahulu, konteks dan filosofi PTK  berbeda dari konteks dan filosofi penelitian formal. Dengan kata lain, berbeda dari yang terjadi dalam konteks PTK , observasi dan interpretasi dalam konteks penelitian formal itu dilakukan oleh orang luar bukan oleh pelaku yang terlibat secara langsung dalam pembelajaran.

b. Observasi dan Interpretasi

Secara umum, observasi adalah upaya merekam segala peristiwa dan kegiatan yang terjadi selama tindakan perbaikan itu berlangsung dengan atau tanpa alat bantu. Yang penting dicatat pada kesempatan ini adalah kadar interpretasi yang terlibat dalam rekaman hasil observasi. Sebagaimana diketahui, kadar interpretasi yang terlibat dalam penelitian dapat direntang dari 0 (nol) seperti yang dilakukan dalam kerangka pikir analisis interaksi (interaction analysis) yang dikembangkan oleh Flanders (1970) sehingga hanya menghasilkan tiga kategori yang relatif miskin makna yaitu (i) ujaran guru (teacher talk), (ii) ujaran siswa (pupil talk), dan (iii) diam/kacau (silence/confusion). OIeh karena sama sekali tidak disertai interpretasi, pendekatan observasi sebagaimana dikembangkan oleh Flanders ini dinamakan observasi yang berinferensi rendah (low-inference observation).

Sebaliknya, sesuai dengan hakikat data yang dikehendaki, ada pula observasi yang justru harus dilakukan secara bersamaan dengan interpretasi. Sebagai contoh, interpretasi itu perlu dilakukan pada saat yang bersamaan dengan pelaksanaan observasi seperti yang lazim diperlukan dalam mengamati dan/atau mengakses keputusan dan/atau tindakan profesional Anda dalam interaksi pembelajaran. Observasi semacam itu dinamakan observasi yang berinferensi tinggi (high-inference observation) yang merupakan pendekatan interpretatif dalam observasi yang digunakan dalam rangka penerapan Alat Penilai Kemampuan  guru (APKG) sebagai piranti pengumpulan data mengenai kinerja calon guru dalam pelaksanaan PPL.

Perlu dirancang mekanisme perekaman hasil observasi yang tidak mencampuradukkan fakta dengan interpretasi. Akan tetapi, Anda sebagai peneliti seharusnya juga tidak terseret oleh kaidah umum yang secara tanpa kecuali menaifkan interpretasi dalam pelaksanaan observasi. Apabila yang terakhir ini dilakukan, sehingga yang direkam hanyalah fakta tanpa interpretasi, maka akan dapat timbul risiko bahwa makna dari perangkat fakta yang telah Anda amati itu tidak lagi dapat dibangkitkan kembali secara utuh karena proses erosi yang terjadi dalam ingatan, terlebih-lebih apabila pengamat adalah juga aktor tindakan. Dalam hubungan ini, agaknya prosedur perekaman hasil observasi yang telah banyak digunakan dalam penelitian kualitatif, dapat dimanfaatkan secara produktif.

c. Diskusi Balikan

Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, meskipun dirujuk supervisi klinis dalam menetapkan kerangka observasi PTK , perlu selalu diingat kekhasannya yaitu observasi oleh dan untuk sejawat (Hopkins, 1992). Dalam observasi kesejawatan ini, mitra pengamat dapat mengggelar berbagai fungsi sesuai dengan kebutuhan yang kontekstual, melakukan pengamatan secara umum, memusatkan perhatian kepada suatu fokus, secara langsung melakukan semacam verifikasi kepada siswa di saat-saat yang tepat sementara kegiatan pembelajaran berlangsung, dan/atau mencatat sesuatu insiden penting yang mungkin lunput dari perhatian  guru sebagai aktor tindakan perbaikan.

Observasi kelas akan memberikan kemanfaatan apabila pelaksanaannya diikuti dengan diksusi balikan (review discussion). Balikan yang terburuk adalah yang terlalu dipusatkan pada kekurangan dan/atau kesalahan  guru aktor tindakan perbaikan, diberikan secara satu arah yaitu dari pengamat kepada guru, yang bertolak dari kesan-kesan yang kurang didukung data, dan/atau dilaksanakan terlalu lama setelah observasi dilakukan.

Diskusi balikan menjanjikan kemanfaatan yang optimal, apabila: 1) diberikan tidak lebih dari 24 jam setelah observasi, 2) digelar dalam suasana yang saling membantu dan tidak menimbulkan ancaman, 3) bertolak dan rekaman data yang dibuat oleh pengamat, 4) diinterpretasikan secara bersama-sama oleh aktor tindakan perbaikan dan pengamat dengan kerangka pikir tindakan perbaikan yang tengah digelar, dan 5)  pembahasan mengacu kepada penetapan sasaran serta pengembangan strategi perbaikan untuk menentukan perencanaan berikutnya.

5.    Analisis dan Refleksi

Salah satu ciri khas profesionalitas adalah dilakukannya pengambilan keputusan ahli sebelum, sementara, dan setelah tindakan layanan ahli dilaksanakan. Dengan bermodalkan kemampuan dan wawasan kependidikan, Anda dapat membuat rancangan pembelajaran berdasarkan serentetan keputusan situasional dengan menggunakan apa yang telah Anda keketahui seperti tujuan, materi, kesiapan siswa dan dukungan lingkungan belajar sebagai titik-titik berangkat.

Dengan bersenjatakan prinsip reaksi (principle of reaction) sebagai rujukan, Anda dapat melakukan diagnosis dan mengambil keputusan secara sangat cepat untuk melakukan penyesuaian (fine-tuning) yang diperlukan, sementara kegiatan dan peristiwa pembelajaran berlangsung. Dengan bertolak dari apa yang tercapai dan tidak tercapai dalam sesuatu episode pembelajaran, serta dipandu oleh kerangka pikir perbaikan yang telah ditetapkan, Anda dapat mengidentifikasi sasaran perbaikan yang dikehendaki serta menjajaki strategi perbaikan yang perlu digelar untuk mewujudkannya.

Untuk dapat melakukan secara efektif pengambilan keputusan sebelum, sementara, dan setelah suatu program pembelajaran dilaksanakan,  Anda sebagai guru dan terlebih-lebih ketika juga berperan sebagai pelaksana PTK, melakukan refleksi. Artinya, Anda merenungkan secara intens apa yang telah terjadi dan tidak terjadi, mengapa segala sesuatu terjadi dan/atau tidak terjadi, serta menjajaki alternatif-alternatif solusi yang perlu dikaji, dipilih dan dilaksanakan untuk dapat mewujudkan apa yang dikehendaki. Secara teknis, refleksi dilakukan dengan melakukan analisis dan sintesis, di samping induksi dan deduksi. Suatu proses analitik terjadi apabila objek kajian diuraikan menjadi bagian-bagian, serta dicermati unsur-unsurnya. Sedangkan suatu proses sintetik terjadi apabila berbagai unsun objek kajian yang telah diurai tersebut dapat ditemukan kesamaan esensinya secara konseptual sehingga dapat ditampilkan sebagai suatu kesatuan.

Dari banyak pengalaman keseharian, secara tidak sadar orang memusatkan perhatian pada ciri-ciri yang khas, yang kemudian diangkat atau diabstraksikan sebagai suatu sifat umum yang dapat mencakup sekumpulan pengalaman. Kumpulan pengamatan bahwa untuk hidup seekor kelinci harus makan, semut harus makan, ayam harus makan, ular harus makan, dan seterusnya menghasilkan simpulan bahwa untuk dapat hidup binatang harus makan. Simpulan yang diperoleh dengan berangkat dari kasus-kasus menuju pada atribut yang bersifat umum itu dinamakan induksi.

Deduksi yang merupakan hasil berfikir deduktif diperoleh dengan berangkat drin hal abstrak yang berlaku umum, yang kemudian diterapkan pada kasus-kasus yang bersifat khusus. Untuk membuatnya menjadi deduksi, contoh induksi yang telah dikemukakan di atas itu cukup “dibalik secara logika” — (i) untuk hidup, semua binatang harus makan, yang merupakan suatu simpulan umum yang berlaku luas, dan (ii) karena ular adalah binatang, maka untuk dapat hidup ular ini juga harus makan.

Untuk berfikir induktif, dituntut kecukupan bukti empirik pendukung abstraksi; sedangkan untuk berfikir deduktif, dituntut kecukupan bukti jabaran atas konsep yang bersifat abstrak. Sebagaimana yang telah dikemukakan di atas, untuk berfikir refleksi dipersyaratkan pemanfaatan secara intensif dan interaktif antara kajian induktif dan deduktif, antara pembuatan abstraksi dan pembuatan penjabaran. Hanya saja berbeda dan penelitian formal, proses refleksi dalam rangka penyelenggaraan praksis profesional termasuk yang digunakan dalam rangka PTK , dukungan data terhadap kesimpulan kurang luas dan sistematis. Sebaliknya, pelaksanaan refleksi lebih menuntut kemampuan intuitif yang dipicu oleh kepedulian yang tinggi terhadap kemaslahatan peserta didik di samping akumulasi pengalaman praktis yang kaya.

Bagaimana penilaian  mutu hasil induksi, atau deduksi, atau refleksi? Indikator mutu pada induksi dan deduksi adalah luasnya dukungan empirik dan dukungan bukti jabaran. Sedangkan indikator mutu pada refleksi adalah terutama tertangkapnya esensi dan makna sehingga tindakan perbaikan yang dijabarkan daripadanya menunjukkan efektivitas yang cukup tinggi. Dengan kata lain, batu ujian dan keberhasilan kinerja yang reflektif adalah kemanfaatan, seperti yang berlaku dalam pendekatan klinik di bidang medik (Muhadjir,1997).

Dalam PTK dikembangkan kemampuan berfikir reflektif atau kemampuan mencermati kembali secara lebih rinci segala sesuatu yang telah dilakukan beserta hasil-hasilnya, baik yang positif maupun negatif kegiatan semacam itu dalam PTK  diperlukan untuk menemukan titik-­titik rawan sehingga dapat dilanjutkan dengan mengidentifikasikan serta menetapkan sasaran­-sasaran perbaikan baru, menyusun perencanaan baru, mengimplentasikan tindakan baru, atau sekadam untuk menjelaskan kegagalan implementasi tindakan perbaikan. Dengan kata lain, refleksi dalam arti metodologik merupakan upaya membuat deduksi dan induksi silih berganti secara tepat meskipun tanpa dukungan data yang memenuhi semua persyaratan secara tuntas. Namun, sebaliknya, kecepatan dalam menemukan gagasan-gagasan kunci yang dilandasi oleh refleksi secara akumulatif menampilkan mutu kinerja yang tinggi. Dengan kata lain, tindakan yang reflëktif terbukti membuahkan berbagai perbaikan praksis yang nyata (Natawidjaya, 1997).

a. Analisis Data

Berbeda dan interpretasi data hasil tiap observasi yang dijadikan bahan diskusi balikan sebagai tindak lanjut dan suatu observasi sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, analisis data dalam rangka refleksi setelah implementasi suatu paket tindakan perbaikan mencakup proses dan dampak seperangkat tindakan perbaikan dalam sesuatu siklus PTK  sebagai keseluruhan. Dalam hubungan ini analisis data adalah proses menyeleksi, meyederhanakan, memfokuskan, mengabstraksikan, mengorganisasikan data secara sistematik dan rasional untuk menampilkan bahan-bahan yang dapat digunakan untuk menyusun jawaban terhadap tujuan PTK.

Analisis data dilakukan melalui tiga tahap, yaitu deduksi data, paparan data, dan penyimpulan. Reduksi data adalah proses penyederhanaan yang dilakukan melalui seleksi, pemfokusan dan pengabstraksian data mentah menjadi informasi yang bermakna. Paparan data adalah proses penampilan data secara lebih sederhana dalam bentuk paparan naratif, representasi tabular termasuk dalam format matniks, representasi grafis, dan sebagainya. Sedangkan penyimpulan adalah proses pengambilan intisari dan sajian data yang telah terorganisasi tersebut dalam bentuk pernyataan kalimat dan/atau formula yang singkat dan padat, tetapi mengandung pengertian luas.

b. Refleksi

Sebagaimana telah dikemukakan di atas, refleksi dalam PTK adalah upaya untuk mengkaji apa yang telah dan/atau tidak terjadi, apa yang telah dihasilkan atau yang belum berhasil dituntaskan oleh tindakan perbaikan yang telah dilakukan. Hasil refleksi itu digunakan untuk menetapkan langkah lebih lanjut dalam upaya mencapai tujuan PTK. Dengan kata lain, refleksi .merupakan pengkajian terhadap keberhasilan atau kegagalan dalam pencapaian tujuan sementara dan untuk menentukan tindak lanjut dalam rangka mencapai tujuan akhir yang mungkin ditetapkan dalam nangka pencapaian berbagai tujuan sementara lainnya. Apabila dicermati, dalam proses refleksi tersebut dapat ditemukan komponen-komponen sebagai berikut.

ANALISIS PEMAKNAAN PENJELASAN PENYUSUNAN SIMPULAAN IDENTIFIKASI TINDAK LANJUT

Kesemuanya itu dilakukan dalam kerangka pikir tindakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Meskipun di antara kelima komponen tersebut tampak terdapat urutan yang logis, dalam kenyataannya kelima komponen terkunjungi secara bersamaan dan bolak-balik selama refleksi berlangsung. Dengan bertolak dan gambaran menyeluruh mengenai apa yang telah terjadi pada siklus PTK  yang baru terselesaikan, maka pelaksana PTK  ada pada posisi untuk menetapkan tindak lanjut. Apabila memang masih dipandang perlu, kembali dengan selalu merujuk pada kerangka pikir tindakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Untuk menetapkan tindakan yang akan diambil pada tahap berikutnya, seorang pelaksana PTK  tidak boleh hanya terpaku pada pemikiran tentang sebab-sebab dan kejadian­-kejadian pada fase sebelumnya, namun juga perlu merenungkan kembali mengenai kekuatan dan kelemahan tindakan yang telah dilakukan, memprakirakan peluang keberhasilan, di samping memperhitungkan kcndala-kendala yang kemungkinan menghadang di depan. Juga perlu dipertimbangkannya kemungkinan-kemungkinan dampak samping dan tindakan yang direncanakan itu.

Dengan menggunakan gambaran yang diperoleh dari pengalaman pada fase sebelumnya serta menilai kembali sasaran perbaikan yang telah ditetapkan, yang dibingkai dalam kerangka pikir hajat perbaikan yang merupakan fokus PTK , maka terbuka peluang untuk mengidentifikasi sasaran-sasarán perbaikan yang baru, dan pada gilirannya, menyusun rencana tindakan perbaikan yang baru. ini juga berarti apabila keseluruhan hajat perbaikan dalam sebuah PTK dapat diwujudkan, maka guru dapat merambah permasalahan-permasalahan lain yang masih memerlukan penanganan dan melancarkan paket PTK yang baru. Kemungkinan berlangsungnya perbaikan yang berkelanjutan karena dipicu oleh PTK  inilah yang menyebabkan Hopkins (1992) membahas observasi dalam konteks pengembangan staf dan pengembangan sekolah sebagaimana telah diutarakan sebelumnya.

Akhirnya, tidak  perlu  kiranya  ditekankan kembali  bahwa  dalam  PTK   yang

diselenggarakan secara kolaboratif, refleksi ini juga harus dilakukan secara kolaboratif. Penekanan ini dikemukakan tentu bukan dengan maksud untuk menafikan kemanfaatan refleksi perorangan dalam PTK yang dilaksanakan secara kolaboratif sebab pada akhirnya seorang pekerja profesional harus mampu mengambil keputusan serta melakukan tindakan secara mandiri. Bahkan kemandirian dalam bertindak di samping tanggung jawab penuh terhadap segala risikonya itu justru merupakan manifestasi profesionalitas. Oleh karena itu, yang hendak ditekankan dalam hubungan ini adalah pemanfaatan interaksi kesejawatan termasuk kesediaan serta kemampuan untuk saling memberikan balikan sebagai peluang untuk saling belajar yang pada gilirannya, dapat bermuara pada pertumbuhan dalam jabatan yang berkelanjutan bagi kedua belah pihak.

6.    Perencanaan Tindak Lanjut

Sebagaimana telah diisyaratkan, hasil analisis dan refleksi akan menentukan apakah tindakan yang telah dilaksanakan dapat mengatasi masalah yang memicu penyelenggaraan PTK atau belum. Jika hasilnya belum memuaskan atau masalahnya belum terselesaikan, maka dilakukan tindakan perbaikan lanjutan dengan memperbaiki tindakan perbaikan sebelumnya atau, dengan menyusun tindakan perbaikan yang betul-betul baru untuk mengatasi masalah yang ada.

Jika masalah yang diteliti belum tuntas atau belum memuaskan pengatasannya, maka PTK harus dilanjutkan pada siklus ke-2 dengan prosedur yang sama seperti pada siklus ke-1, yaitu perumusan masalah, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan interpretasi, dan analisis-refleksi. Jika pada siklus ke-2 ini permasalahannya sudah terselesaikan (memuaskan), maka tidak perlu dilanjutkan dengan siklus ke-3. Namun, jika pada siklus ke-2 masalahnya belum terselesaikan, maka perlu dilanjutkan dengan siklus ke-3, dan seterusnya.

Siklus dalam PTK sebenarnya tidak dapat ditentukan lebih dahulu jumlahnya sebab­ sesuai dengan hakikat permasalahannya yang kebetulan menjadi pemicunya. Ada penelitian yang cukup hanya dilakukan dalam satu siklus karena masalahnya dapat diselesaikan. Namun, ada juga yang memer!ukan atau melalui beberapa siklus. Dengan demikian, dapat dikatakan banyak sedikitnya jumlah siklus dalam PTK itu bergantung pada terselesaikannya masalah yang diteliti dan munculnya faktor-faktor lain yang berkaitan dengan masalah itu. Di pihak lain, memang ada kemungkinan bahwa jumlah siklus tindakan perbaikan itu dapat diperkirakan sebelumnya berdasarkan bobot masalah yang dijadikan sasaran garapan PTK dengan mempertimbangkan kondisi siswa, guru, dan faktor masukan dan proses lainnya (Sugiyanto, 1998).

7.         Prosedur Observasi

a. Beberapa Pendekatan

Sebagaimana telah diisyaratkan sebelumnya, berhubung sifatnya yang sangat teknis maka paparan yang lebih rinci mengenai prosedur observasi dalam PTK dihahas secara tersendiri dalam bagian ini. Dalam hubungan ini, sebagai pengantar dibahas berbagai sudut pandang yang dapat digunakan dalam menetapkan prosedur observasi yang akan digunakan dalam siklus PTK, dilanjutkan dengan langkah-langkah observasi serta teknik-teknik yang dapat dipilih. Ada sejumlah kriteria yang dapat

1 thought on “Konsep Dasar PTK”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s